September, 2006

apakah cuma..

ketika terbangun di pagi hari..
matahari blm mau memunculkan sinarnya..
kepada para insan di dunia..
dan juga kepada sebuah hati..
yg mungkin..
blm mau disinari oleh perasaanku..
apakah yg kulakukan itu salah?..
memantapkan hati kpd seseorang..
dan yakin bahwa dia akan menjadi..
seseorang yg plng brharga dlm hidupku..
kelak.. ataupun nanti..
dan menolak hati-hati yg lain..
ya.. banyak hati..
yg jelas telah mengungkapkan..
rasa hatinya kepadaku..
tetapi apa yg kudapatkan?..
sebuah rasa..
yg mngkn tdk memikirkan..
hatiku sama sekali..
jd. maafkan aku..
bila aku.. terlalu..
brperasaan..
kepadanya..

Bila Indah Tak Sebatas Pandangan Mata..

Dua
orang pria yang sedang sakit parah dirawat di kamar yang sama di
sebuah rumah sakit. Salah satu pria itu diizinkan duduk tegak di
ranjangnya selama 1 jam setiap sore untuk membantu mengeringkan
cairan dari paru-parunya. Ranjangnya terletak di sebelah jendela yang
memang hanya satu-satunya ada di kamar itu. Sedangkan pria lainnya
harus berbaring terus sepanjang hari. Setiap harinya selama beberapa
jam kedua pria itu kerap mengobrol untuk menghilangkan rasa bosan.
Topik yang dibicarakan pun selalu berganti, mulai dari istri,
keluarga, rumah, pekerjaan, hingga berbagai tempat berlibur yang
pernah mereka kunjungi. Setiap sore, ketika pria yang ranjangnya
berada di sebelah jendela duduk tegak, dia bercerita kepada teman
sekamarnya tentang segala sesuatu yang ada di luar jendela yang
dilihatnya. Mendengar cerita tersebut, pria yang harus berbaring
terus-menerus di ranjangnya menjadi bersemangat. Dunianya pun menjadi
lebih luas dan meriah dengan semua aktivitas dan warna dunia luar
yang didengarnya dari cerita temannya itu. Dia pun menjadi lebih
optimis untuk sembuh agar dapat melihat pemandangan tersebut. Menurut
temannya, jendela itu menghadap ke sebuah taman yang dilengkapi
dengan danau yang indah. Itik dan angsa bermain di air, sementara
anak-anak melayarkan kapal-kapaln mereka. Pasangan muda yang sedang
asyik bermesraan, berjalan bergandengan tangan di tengah bunga-bunga
yang bermekaran dengan warna indah pelangi. Sedangkan pohon tua
tampak menaungi alam sekitarnya dan gedung-gedung pencakar langit
tampak berdiri di kejauhan. Saat pria yang ada di dekat jendela itu
menjelaskan semua detail yang indah tersebut, pria yang tidur di
sebelahnya memejamkan matanya dan membayangkan pemandangan yang indah
itu. “Ah alangkah senangnya bila aku dapat melihatnya dengan mata
kepalaku sendiri. Aku harus cepat sehat” ujarnya. Suatu sore yang
hangat, pria yang ranjangnya berada dekat jendela bercerita tentang
parade band yang lewat di luar sana. Kendati pria yang satunya tak
bisa mendengar musik dari band, namun ia bisa melihat dari batinnya
semua pemandangan yang dilukiskan pria yang di dekat jendela itu.
Tanpa terasa hari demi hari pun berlalu. Suatu pagi, ketika seorang
perawat datang membawa air mandi untuk kedua pasien pria tersebut, ia
menemukan pria yang ranjangnya berada di dekat jendela telah
meninggal dengan tenang dan wajah tersenyum seperti sedang tidur.
Dengan rasa sedih si perawat pun membawa jenazah pria itu ke kamar
jenazah. Pria yang di sebelahnya pun merasa sangat kehilangan karena
tidak ada lagi yang bisa menceritakan keadaan di luar sana. Pada
suatu hari, ketika merasa dirinya sudah dapat duduk tegak, pria yang
satu lagi bertanya apakah ia bisa pindah ke ranjang yang letaknya
dekat dengan jendela. Perawat dengan senang hati mengabulkan
permintaannya. Karena merasa penasaran dan tak sabar ingin melihat
pemandangan yang selama ini hanya didengarnya saja, akhirnya dengan
susah payah pria itu berusaha menegakkan badannya, lalu melihat ke
luar jendela dengan bertumpu pada satu siku. “Kini aku bisa
menyaksikan keindahan itu dengan mata kepalaku sendiri” pikirnya.
Namun anehnya ketika ia berhasil melihat ke luar jendela, yang
dilihatnya hanyalah sebuah tembok kosong. Pria itu bertanya kepada
perawat apa yang terjadi dengan pemandangan indah yang kerap
diceritakan teman sekamarnya dulu. “Sejak kapan ada tembok kosong
di luar jendela? Bukankah seharusnya ada pemandangan danau dan
gedung-gedung pencakar langit yang tinggi? tanya pria itu. Perawat
itu pun menjelaskan bahwa pria yang menceritakan semuanya itu…
sebenarnya buta…

Puisi dari hati..

Puisi dari hati…

Ketika tersadar sekarang…
Aku pun baru teringat akan kata-katanya…
Waktu aku bertemu lagi dengannya…
Setelah sekian lama…

Dia bukanlah seorang pemerhati…
Juga bukan seorang pengungkap isi hati…
Tapi dia adalah sebuah qalbu…
Yang pernah terluka karenaku…

Apakah yang kulakukan itu salah…?
Bukan… Bukan itu masalahnya…
Aku… Hanya Ingin…
Tidak melukai hati seseorang…
Lagi… Dan lagi…

Aku.. Hanya ingin…
Melihatnya lebih bahagia…
Tanpaku…
Lebih ceria…
Bukan karenaku…
Dan lebih baik…
Jika tidak bersamaku…

Karena…
Aku tahu kalau…
Keberadaanku…
Hanya membuatnya…
Lebih menyakiti…
Perasaannya…
Yang telah diberikan…
Kepadaku…

Cuma satu pintaku…
Maafkan kehadiranku…
Dalam hatimu…
Yang telah mengecewakan…
Rasamu padaku…
Yang mungkin telah kau tumbuhkan…
di masa lalu…

Aku pun berdoa kepada Yang Maha Kuasa…
Agar diberikan-Nya untukmu…
Seseorang yang benar-benar…
Tulus padamu…
Dan yang akan membuatmu…
Lebih menyayanginya…
Daripada…
Kisah-kisahmu yang dulu…

Sebab…
Aku percaya dua hal…
Cinta terakhir itu…
Lebih indah dari…
Cinta pertama sekalipun…
Dan cinta itu…
Harus diperjuangkan…

“when love brightens ur heart, u’ll know what love means is..”

Sebuah keputusan..

ketika kita harus berhadapan..
dengan keputusan berat..
yang menyangkut masalah hati..
bukankah itu sulit?..
ya..
itu sangat sulit..
bagi orang..
yang benar-benar..
memperhatikan perasaannya..
karena..
kita harus menghadapi..
orang yang sangat..
kita sayangi..
dengan cara..
yang tidak kita sukai..
kenapa?..
bukan apa-apa..
karena hati ini rasanya sanjung..
melihat raut wajah berseri mereka..
yang menyatakan kesungguhan..
kepada seorang insan..
yang tak berharga ini..
kenapa bisa?..
insan ini juga tak mengerti..
apa yang telah ia lakukan..
sampai saat ini..
tetapi..
dengan segala kerendahan hati..
insan tersebut menyadari..
dirinya masihlah seorang sampah..
dan belum sepenuhnya hamba yang berarti..
dan akhirnya..
insan tersebut harus mnyatakan..
kesungguhannya juga..
kepada mereka..
bahwa sang insan..
bukanlah seperti..
sebaik..
dan sehebat..
yang mereka bayangkan..

diambil dari: The End of The Emptyness